• Manggis, Primadona Ekspor Buah Indonesia (sumber dari website UNPAD klik disini)

Siapa sangka cangkang manggis lebih bernilai ekonomi daripada buah manggisnya sendiri? Hal ini terkuak dalam Workshop “Roadmap dan Teknologi Pengembangan Agroindustri Buah Manggis dalam Upaya Akselerasi Ekspor” di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jalan Dipati Ukur, Bandung, Selasa (04/11/08).

Acara ini menghadirkan Prof. Dr. H. R. Sidik (Guru Besar dan Peneliti Unpad), Dr. Ahmad Dimyati, Ir., M.S. (Dirjen Hortikultura Deptan RI), Prof. Dr. Ir. Zaenal Bachruddin,  M.Sc. (Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Deptan RI), Ir. Tati Sukarti, M.S., Dr. Ir. Roni Kastaman, M.T., dan Dwi Purnomo, STP., M.T., (Tim Peneliti Manggis Unpad), Nur Suhud, DEA., (Dosen dan Peneliti Unpad), dan Aji Gunawan (Ketua GAPOKTAN Arta Mukti).

Menurut Prof. Sidik, buah manggis menyimpan banyak manfaat dan perlu digali lebih dalam sehingga dapat menemukan khasiatnya yang lebih banyak lagi. Secara empirik, manggis berkhasiat seperti berikut: akarnya berguna mengatasi haid yang tidak teratur, kulit batangnya (kambium) dapat mengatasi diare, disentri dan sariawan mulut. Buahnya dapat digunakan sebagai bahan sari buah atau dikonsumsi secara langsung. Selain itu, kulit buah manggis dapat digunakan untuk: astringent, diare, disentri, radang saluran kemih, radang amandel, pendarahan usus, obat cacing, wasir, borok, tumor dalam rongga mulut dan kerongkongan, serta sariawan.

Sementara itu, Nur Suhud, DEA., mengatakan, untuk menggali potensi manggis, kita harus mengenal karakteristik buah tersebut terlebih dahulu. Manggis (garcinia mangostana L.) adalah tanaman buah berupa pohon yang berasal dari kawasan hutan tropis basah di Asia tenggara. Tinggi pohon bisa mencapai 25 m dengan tajuk lebar (sampai 12 m) dan rimbun, serta pertumbuhannya lambat. Kulit buah mengandung xanthonin dan dapat digunakan sebagai bahan pembuat cat anti karat. Tumbukan kulit buah juga dapat digunakan untuk memacu keluarnya nira kelapa. Selain kaya karbohidrat dan kalori, daging buah juga kaya mineral kalsium, fosfor, dan zat besi.

Manggis tidak memerlukan jenis tanah tertentu, hanya tingkat keasaman tanah (pH) yang harus dijaga, yaitu antara 5-7. Manggis tumbuh baik dalam temperatur 25-35 oC, dengan kelembaban udara relatif di atas 80%. Intensitas cahaya antara 40%-70%, terutama pada tanaman manggis yang belum dewasa. Cara terbaik untuk mempercepat laju pertumbuhan ialah dengan memberikan kondisi lingkungan tumbuh yang optimal. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan pupuk organik dan mulsa organik disertai pemberian air yang cukup.

Dalam acara ini juga dipresentasikan hasil penelitian manggis oleh tim peneliti Fakultas Teknologi Ilmu Pertanian (FTIP) Unpad. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa kulit manggis dapat dijadikan bahan pewarna makanan. Selain dapat menjadi obat sariawan, wasir, dan luka, kulit buah manggis yang mengandung 2 senyawa alkaloid, serta lateks kering yang megandung pigmen. Pigmen ini berasal dari dua metabolit (mangostin dan beta mangostin).

Dr. Ahmad Dimyati, Dirjen Hortikultura Depta RI menyampaikan, manggis kini menjadi primadona ekspor. Pernyataan ini bukan isapan jempol belaka, ia mengajukan bukti bahwa ekspor manggis merupakan 34,4% dari total ekspor buah dan 9,62% dari total produksi nasional. Selain buahnya dapat dikonsumsi secara langsung, kulit buah manggis juga bernilai ekonomis lebih. Sementara itu, dalam keynote speech Menteri Pertanian RI yang dibacakannya, negara tujuan ekspor manggis ialah; China, Hongkong dll. Indonesia merupakan negara kedua terbesar pengekspor manggis dunia.

Acara ini juga mengetengahkan pelaku bisnis di bidang ini. Mereka menyetujui jika manggis merupakan primadona ekspor buah Indonesia untuk saat ini. Mereka juga merasa diperlukannya sebuah sistem di bawah payung hukum yang menunjang optimalisasi ekspor dan melindungi eksportir dari para spekulan. (antz)